Bersenang-senang di Riam Jeram
MENELUSURI sepanjang 12 kilometer sungai sembari menaklukkan 20 jeram sungguh petualangan alam tak terlupakan. Apalagi jika sempat merasakan empasan dan terhanyut derasnya arus Sungai Cicatih Sukabumi, Jawa Barat.
Ketika diundang mengikuti lomba arum jeram di Cicatih pekan lalu, segera saja kami merespons undangan itu. Bukan soal kompetisi, tapi olah raga di alam terbuka ini mampu membangkitkan adrenalin. Cocok melepas ketegangan setelah berkutat dalam pekerjaan.
Berlomba tanpa beban harus menjadi juara, membuat tim kami melangkah dengan enteng dari Jakarta. Setelah menyelesaikan pekerjaan Sabtu (14/6) pekan lalu, kami berangkat dengan dua tim. Setiba di Kampung Jeram, Leuwi Lalay, sekitar pukul 22.00 WIB. Peserta lain lebih dulu tiba sembari menikmati singkong rebus dan bandrek hangat suguhan panitia.
Esok paginya usai briefing, ke-15 tim berangkat menuju Desa Bojongkerta, hulu sungai tempat perlombaan dimulai. Medan mendaki dan berliku kami lalui sekitar 20 menit. Di sana, sudah tersedia peralatan jeram, berupa perahu karet, pelampung, helm, dan pengayuh.
Perlombaan dimulai dengan kategori adu kecepatan dayung (down river race) sepanjang 1,5 km. Arus sungai terlihat tenang hingga kecepatan perahu benar-benar mengandalkan kekuatan dan kekompakan mendayung sesama anggota tim.
Setelah jeda barang lima menit, perlombaan kategori slalom pun dimulai. Kategori ini mempertunjukkan keterampilan memasuki gerbang di tengah jeram. Cukup mudah memasuki gerbang pertama dengan panduan skipper andal. Namun tantangan terberat justru ketika memasuki gerbang dengan melawan arus sungai.
Hudin, skipper yang memandu kami mencoba dengan strategi mundur memasuki gerbang. Hasilnya mengecewakan. Alih-alih melintasi gerbang, perahu kareta tak kunjung menyentuh sisi gawang meski sudah mengerahkan sepenuh tenaga.
Pengamatan saya, tak ada tim yang menerapkan strategi mengayuh mundur ketika melintasi gawang merah. Tim lain berbalik maju memasuki setelah melintasi gawang lebih dulu. Metode ini memang agak sedikit lambat, namun sangat menolong bagi tim yang kebanyakan mampu mengayuh dengan posisi maju.
Sebaliknya, strategi mundur yang kami gunakan memang lebih cepat mendekati gawang. Namun, karena kurang pengalaman mengayuh mundur, sisi gawang merah tak kunjung tersentuh meski sudah berkutat sekian detik. Meski demikian, unsur hiburan perlombaan itu mengalahkan rasa kecewa tim kami.
Usai dengan dua kategori, semua tim mengikuti fun rafting, kategori non-perlombaan. Jarak yang harus dilalui sekitar 8,5 km dengan 18 jeram.
Kesenangan mengarungi ganasnya jeram Cicatih dimulai di kategori ini.
Saat kami mengikuti fun rafting ini, debit air Cicatih tergolong normal. Jeram yang kami lintasi rata-rata masuk kategori tiga, cukup berbahaya. Derasnya arus sungai melintasi bebatuan gunung sebesar kendaraan minivan. Makin seru.
Ketika perahu melintasi jeram rontok, asmara, kuku patah, gigi, under cut, marzuki, blender, kami benar-benar ibarat daun kering diempas derasnya arus sungai. Perahu kami sempat terjungkal dan melempar empat anggota tim termasuk skipper saat melintasi jeram asmara.
Menurut Hudin, konon sepasang kekasih terlempar dari perahu ketika melintasi jeram itu. Maka itu, dinamai jeram asmara. Ketika tim rescue datang menolong penumpang perahu yang hanyut itu didapati berpelukan dalam kondisi selamat.
Mengarungi perlintasan riam jeram ini, nyaris hanya sedikit waktu jeda dari tantangan arus jeram. Kami harus selalu mengayuh maju, sesekali mengayuh mundur mengikuti instruksi skipper agar mampu mengimbangi arus. Terkadang belum sempat instruksi dijalankan, skipper menginstruksikan perintah sebaliknya. Saat itu perahu sudah mendekati jeram, alih-alih melakukan instruksi, anggota tim memilih memegang tali sembari pasrah dihadang gelombang arus sungai.
Setelah selesai fun rafting, seluruh tim rehat sekitar satu jam. Beberapa anggota tim memanfaatkan waktu sekadar tidur-tiduran di atas badan perahu. Mengumpulkan tenaga untuk mengikuti perlombaan adu kecepatan head to head antartim sepanjang 500 meter.
Hampir sepanjang 12 km berjeram ria di sungai Cicatih, kami lewati penuh dengan gelak tawa. Seorang kawan yang sedang tertawa, tiba-tiba diam dan terbatuk ketika gelombang air Cicatih menyumbat mulutnya. Tenggorokan perih dan bola matanya memerah.
Luther Kembaren
Last Edit by: Erik Heldani
