Bersenang-senang di Riam Jeram

MENELUSURI sepanjang 12 kilometer sungai sembari menaklukkan 20 jeram sungguh petualangan alam tak terlupakan. Apalagi jika sempat merasakan empasan dan terhanyut derasnya arus Sungai Cicatih Sukabumi, Jawa Barat.

       

Ketika diundang mengikuti lomba arum jeram di Cicatih pekan lalu, segera saja kami merespons undangan itu. Bukan soal kompetisi, tapi olah raga di alam terbuka ini mampu membangkitkan adrenalin. Cocok melepas ketegangan setelah berkutat dalam pekerjaan.

       

Berlomba tanpa beban harus menjadi juara, membuat tim kami melangkah dengan enteng dari Jakarta. Setelah menyelesaikan pekerjaan Sabtu (14/6) pekan lalu, kami berangkat dengan dua tim. Setiba di Kampung Jeram, Leuwi Lalay, sekitar pukul 22.00 WIB. Peserta lain lebih dulu tiba sembari menikmati singkong rebus dan bandrek hangat suguhan panitia.

          

   Esok paginya usai briefing, ke-15 tim berangkat menuju Desa Bojongkerta, hulu sungai tempat perlombaan dimulai. Medan mendaki dan berliku kami lalui sekitar 20 menit. Di sana, sudah tersedia peralatan jeram, berupa perahu karet, pelampung, helm, dan pengayuh.

       

   Perlombaan dimulai dengan kategori adu kecepatan dayung (down river race) sepanjang 1,5 km. Arus sungai terlihat tenang hingga kecepatan perahu benar-benar mengandalkan kekuatan dan kekompakan mendayung sesama anggota tim.

       

Setelah jeda barang lima menit, perlombaan kategori slalom pun dimulai. Kategori ini mempertunjukkan keterampilan memasuki gerbang di tengah jeram. Cukup mudah memasuki gerbang pertama dengan panduan skipper andal. Namun tantangan terberat justru ketika memasuki gerbang dengan melawan arus sungai.   

       

Hudin, skipper yang memandu kami mencoba dengan strategi mundur memasuki gerbang. Hasilnya mengecewakan. Alih-alih melintasi gerbang, perahu kareta tak kunjung menyentuh sisi gawang meski sudah mengerahkan sepenuh tenaga.

       

Pengamatan saya, tak ada tim yang menerapkan strategi mengayuh mundur ketika melintasi gawang merah. Tim lain berbalik maju memasuki setelah melintasi gawang lebih dulu. Metode ini memang agak sedikit lambat, namun sangat menolong bagi tim yang kebanyakan mampu mengayuh dengan posisi maju.

       

Sebaliknya, strategi mundur yang kami gunakan memang lebih cepat mendekati gawang. Namun, karena kurang pengalaman mengayuh mundur, sisi gawang merah tak kunjung tersentuh meski sudah berkutat sekian detik. Meski demikian, unsur hiburan perlombaan itu mengalahkan rasa kecewa tim kami.

       

   Usai dengan dua kategori, semua tim mengikuti fun rafting, kategori non-perlombaan. Jarak yang harus dilalui sekitar  8,5 km dengan 18 jeram.   

    

   Kesenangan mengarungi ganasnya jeram Cicatih dimulai di kategori ini.      

       

   Saat kami mengikuti fun rafting ini, debit air Cicatih tergolong normal. Jeram yang kami lintasi rata-rata masuk kategori tiga, cukup berbahaya. Derasnya arus sungai melintasi bebatuan gunung sebesar kendaraan minivan. Makin seru.

       

Ketika perahu melintasi jeram rontok, asmara, kuku patah, gigi, under cut, marzuki, blender, kami benar-benar ibarat daun kering diempas derasnya arus sungai. Perahu kami sempat terjungkal dan melempar empat anggota tim termasuk skipper saat melintasi jeram asmara.

       

Menurut Hudin, konon sepasang kekasih terlempar dari perahu ketika melintasi jeram itu. Maka itu, dinamai jeram asmara. Ketika tim rescue datang menolong penumpang perahu yang hanyut itu didapati berpelukan dalam kondisi selamat.

            

Mengarungi perlintasan riam jeram ini, nyaris hanya sedikit waktu jeda dari tantangan arus jeram. Kami harus selalu mengayuh maju, sesekali mengayuh mundur mengikuti instruksi skipper agar mampu mengimbangi arus. Terkadang belum sempat instruksi dijalankan, skipper menginstruksikan perintah sebaliknya. Saat itu perahu sudah mendekati jeram, alih-alih melakukan instruksi, anggota tim memilih memegang tali sembari pasrah dihadang gelombang arus sungai.   

       

   Setelah selesai fun rafting, seluruh tim rehat sekitar satu jam. Beberapa anggota tim memanfaatkan waktu sekadar tidur-tiduran di atas badan perahu. Mengumpulkan tenaga untuk mengikuti perlombaan adu kecepatan head to head antartim sepanjang 500 meter.   

       

Hampir sepanjang 12 km berjeram ria di sungai Cicatih, kami lewati penuh dengan gelak tawa. Seorang kawan yang sedang tertawa, tiba-tiba diam dan terbatuk ketika gelombang air Cicatih menyumbat mulutnya. Tenggorokan perih dan bola matanya memerah.

    

   Luther Kembaren

Last Edit by: Erik Heldani

                            

Kuruuuuuusssss Banget

    Siapa yang punya masalah berat badaaaaan? Acungkan tanganmu! Ya, sama kaya gw. Kirain cuma gw aja yang mengalami masalah berat badan, ternyata lo juga ya?! Hehe, gw jadi ada temen deh.
    Btw, berat badan gw ini kayanya ga bakal naik-naik sampe kapan pun. Buktinya udah digono-ginikan masih teteeeep aja kurus banget.
    Dulu, duluuuuuu banget, saat gw masih balita, gw tuh sempet jadi "BABY OF THE YEAR" selama beberapa tahun di kampung. Hehe, menurut cerita para ibu zaman itu (zaman gw masih balita), gw ini jadi rebutan banyak pemudi dan ibu-ibu yang ga ada kerjaan. Tentu saja gw jadi rebutan banyak orang karena selain gw tak ada balita yang selucu dan sesehat gw.
    Dengan pipi yang montok, memungkinkan semua orang mencubit gemas pipi gw kala itu. Dengan kulit yang putih dan mulus, membuat semua orang terpesona ingin mengelus gw. Dan dengan tubuh yang gempal sehat (proporsional), membuat siapa pun tak tahan ingin memeluk dan menggendongku. Apalagi kalau gw udah dimandiin, uuuuuuuhhhhh, semua orang tak rela dan tak kan membiarkan gw diciumi orang lain yang ada di sekitarnya.
    Betapa bangga dan senangnya ibu gw karena tak usah repot-repot mengasuh dan mengajak gw bermain keliling kompleks, banyak yang antre untuk mengasuh gw sih. FYI # 1: bayi sehat kala itu jadi idola dan punya sesi tebar pesona keliling kompleks. Hihihihiiiiiii
    Tahun demi tahun berlalu, tubuh gw ini mengalami pertumbuhan sesuai dengan masanya. Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan anugerah berupa tinggi badan yang lebih dari kebanyakan orang.
FYI # 2: Tinggi badan gw tidak biasa di kalangan orang sekampung gw. Tinggi badan gw melebihi tinggi badan anggota keluarga gw. Dan banyak yang berujar, "Aduh Erik, tinggi amat." Hehe, emang berapa sih tinggi badan gw waktu itu? Dan sedari TK sampai SMP, gw termasuk dalam "Lima Besar Anak Bertinggi Badan Lebih", eh apa ya istilah kerennya, mmm "The Top 5 Tallest Boy". Hehe, gitu deh.
    Tapi sayangnya, ketinggian badan gw tak diiringi bentuk yang bagus. Gw cenderung memiliki berat badan yang kurang bila dilihat dari perhitungan berat badan yang ideal. Tak habis pikir gw ini, kenapa ya gw ko ga bisa gemuk seperti dulu lagi? Padahal semua jenis makanan bisa gw lahap tanpa ampun. Porsinya pun bisa lebih dari orang biasa. Namun satu hal yang tetap gw ingat sampai saat ini: Ibu gw perbah bilang, "Erik tuh ga bakal bisa gemuk selama masih sekolah. Nanti deh kalo udah selesai sekolah, Erik akan gemuk dengan sendirinya." Begitulah.
    Nah, selama gw SD, gw berusaha menyabar-nyabarkan diri untuk selesaikan SD secepatnya. Sayang, kala itu belum ada program akselerasi di SD tempat gw sekolah. Padahal gw punya nilai-nilai bagus di semua mata pelajaran, dan beberapa guru pun menyetujui kalau gw loncat 2 kelas. Sayang tak ada kebijakan seperti itu kala itu.
    Lulus SD (normal) 6 tahun. Kesabaran gw masih ada karena gw masih harus masuk SMP. Di SMP, seperti yang dah gw bilang, gw masuk dalam jajaran anak bertinggi badan lebih. Namun ya itu tadi, gw cukup kurus untuk ukuran anak SMP. Eh tapi walau kurus, gw anak sehat ko. Ga pernah sakit yang macem-macem.
    Masa SMP gw jalani dengan penuh kesabaran. Gw sabar aja, beberapa waktu lagi gw pasti bisa selesaikan tugas gw untuk sekolah, trus bisa gemuk lagi deh.
    Waktunya masuk SMA..... Gw mungkin dalam kondisi terkurus dalam hidup gw ketika gw masuk SMA. Masa SMA pun gw jalani dengan sabaaaaar sekali karena masa sekolah pasti berlalu dan berat badan gw pun pasti bisa gemuk lagi.
    Selulus SMA, gw masuk kuliah. Yaaaah, ini namanya sekolah juga. Mana bisa gw gemuk kalo masih sekolah. Masa kuliah 5 tahun gw jalani dengan sangat sabar karena selepas tulis skripsi, badan gw pasti bisa gemuk lagi. Namun sayang, selepas lulus kuliah, gw berkutat di dunia pendidikan. Gw dituntut sebagai seorang pengajar. Haaah, jadi pengajar kan sama aja berkutat dengan SEKOLAH lagi.....
    Waaaaaaaaaa tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk

    Fuuuuh, kayanya kalau gw masih berkutat di dunia sekolah, gw ga bakal bisa gemuk. Makanya, sekarang gw ga ngajar lagi, tapi kerja di sebuah koran Ibu Kota. Berharap gemuk!
    Nyatanya, gw kerja malam hari. Tiap hari pulang sampai lebih dari tengah malam. Akibatnya, badan gw ga menunjukkan tanda-tanda menggemuk.
FYI # 3: Berat badan gw saat ini tak bisa lebih dari 61 kg. Tinggi gw saat ini 174 cm atau lebih (ga yakin nih). Menurut Indeks Berat Tubuh, gw ini normalnya berberat badan 72 kg.

    Haaaaaaaaaaaaaaaah, boro-boro 72 kg, dapet 65 aja ampe ngos-ngosan. Aduh, apa salah gw ya ampe ga gemuk-gemuk gini. Gw udah terapkan beberapa cara untuk membuat badan ini gemuk, seperti:
1. Pola makan teratur, (kadang lebih dari 3 kali sehari)
2. Menambah porsi makan (bisa 2 porsi orang normal tiap makan)
3. Memakan makanan sehat dan bergizi, (segalanya dimakan)
4. Minum susu penambah berat badan, (malah mencret-mencret)
5. Olahraga, (tetep kurus)
6. Ga olahraga, (masih kurus)
7. Banyak tidur, (ga ada bedanya tuh)
8. Kurangi tidur, (mata bengkak)

    Haaah, pokonya cape deh usaha ini itu gaada hasilnya. Sekarang gw coba nikmatin aja apa yang ada dan terjadi pada tubuh gw. Kurus pun tak mengapa lah asalkan bisa hidup dengan tenang. (tenang ga ya?)

    Dan, ngomong-ngomong tentang kurus, Sabtu lalu, gw nonton film The Machinist. Film thriller psikologi yang dilakoni oleh Christian Bale ini menceritakan orang yang kehilangan berat badannya sampe kuruuuuuuuus banget.  Padahal kalian tau sendiri kan, Christian Bale itu kan jadi BATMAN di Batman Begins.
    Nah, di The Machinist, Bale menguruskan tubuhnya hingga hilang 30 kg berat badannya. GILAAAAAA.....
    Enam minggu setelah rampung film itu, dia usaha gemukkan lagi untuk peran Batman yang badannya lumayan berisi. Gilaaaaaaaaaaa, ampe masuk Rumah Sakit gara-gara kebanyakan makan setelah kurus banget 4 bulan.

    Hm, kayanya gw jadi ga obsesi gemuk lagi deh. Kayanya gw mau kurus aja ah.

Goodbye My Lover

Kamis, 10 April jadi hari tersedih dalam hidup gw.
Hal ini memang tak pernah terpikirkan oleh gw. Yang gw pikir saat memelihara kucing adalah....gw memeliharanya sampai mati. Entah sampai kucing gw yang mati atau malah gw yang mati duluan.

Ya, ini tentang kucing.

Kucing peliharaan gw yang sudah setahun mengisi hidup gw, terpaksa dihibahkan ke orang lain yang (bahkan baru) gw kenal.

Chibi, Maru, Nyo-Nyo, Mito, Gito, dan Ledger hari ini resmi menjadi milik orang lain. Mereka gw bawa ke kantor siang ini dan langsung diperebutkan oleh banyak orang. Banyak yang merasa kecewa karena tidak "kebagian jatah" kucing-kucing tersebut.

Keputusan gw untuk mengadopsikannya pada orang lain dipicu oleh imbauan Tante gw yang tidak menghendaki lagi adanya kucing di rumah. Ada banyak alasan mengapa kucing-kucing di rumah harus segera "dihilangkan".
Alasan pertama adalah karena pembantu di rumah sudah tidak merasa betah lagi dengan kehadiran kucing-kucing (apalagi adanya anak kucing). Dia merasa takut (fobia terhadap kucing) akan kucing tersebut. Selama ini (sudah setahun) dia berusaha tidak berkontak (mata apalagi sentuhan) langsung dengan kucing gw berhubung fobianya itu. Namun, masa setahun itu tidak membuat fobianya berkurang apalagi hilang sama sekali. Padahal (menurut gw) ketakutannya terhadap kucing itu tampak tak terlalu mencolok lagi. Maklumlah, waktu setahun itu cukup bisa mendekatkan Si Bibi (pembantu) pada kucing-kucing gw.

Yah, sayang tak dapat dilarang, malang tak dapat ditolak. Salah satu kebijakan yang diambil Tante gw itu memang sebagian besar didasarkan pada pembantu gw. Dia memberikan ancaman halus pada sang majikan bahwa "kesabarannya" telah hilang. Kini saatnya sang majikan memilih satu di antara dua: Aku (Bibi, Si Pembantu) atau Dia (kucing-kucing)?

Berhubung jasa pembantu sudah tidak dapat dipungkiri lagi (walaupun gw sering sebel karena dia sering banget pulang kampung), dibandingkan "jasa" kucing gw yang tiap hari hanya minta diurusin diberi makan, pup dan pip-nya menyebarkan bau di rumah, suara berisiknya kalau sedang ingin bercinta, terblokadenya akses mengangkat jemuran kala kucingnya dikurung di ruang cuci terbuka, serta waktu dan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurusi mereka.

Bagi gw, kucing-kucing itu sudah seperti anggota keluarga sendiri. Seburuk apa pun hal yang ditimbulkan oleh mereka, itu semata-mata hanyalah hiburan dan ujian kala menyalurkan hobi mengelus kucing. Memang, manfaat yang didapat pun tak sebanding dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Yang menjadi pikiran gw saat ini adalah, mengapa begitu teganya anggota kelaurga yang lain menyuruh gw untuk menjual kucing-kucing tersebut.

Tak sadarkah mereka kalau menjual kucing-kucing berarti menjual anggota keluarganya sendiri.
Huh, tidak berperikemanu...binatangan.

Yah, mungkin di balik semua itu terdapat hikmah yang lebih besar daripada saat gw mengurusi kucing-kucing itu.
Alhamdulillah juga, ternyata masih ada yang mau menerima semua kucing-kucing gw. Tadinya gw ga yakin kucing ge ada yang mau urusi. Ternayata gw salah.
Teman-teman kantor gw, yang ada beberapa yang belum gw kenal, langsung jadi dekat dan kenal gara-gara hibahan kucing-kucing itu.

Kini, kucing gw tinggal kenangan. Tak kan ada lagi hari indah dan menyenangkan bermain dengan mereka. Yang tertinggal hanya ingatan manis dan bau yang menempel di kamar gw.
Tapi, mungkin bau kucing yang tertinggal di kamar gw juga akan segera hilang karena sepertinya tak lama lagi kamar gw akan dicat ulang mengingat orang rumah tak ada yang menyukai kamar gw lagi.

Goodbye My Lover

Did I disappoint you or let you down?
Should I be feeling guilty or let the judges frown?
'Cause I saw the end before we'd begun
Yes I saw you were blinded and I knew I had won
So I took what's mine by eternal right
Took your soul out into the night
It may be over but it won't stop there
I am here for you if you'd only care
You touched my heart, you touched my soul
You changed my life and all my goals
And love is blind and that I knew when
My heart was blinded by you
I've kissed your lips and held your hand
Shared your dreams and shared your bed
I know you well, I know your smell
I've been addicted to you

Goodbye my lover
Goodbye my friend
You have been the one
You have been the one for me

I am a dreamer and when I wake
You can't break my spirit - it's my dreams you take
And as you move on, remember me
Remember us and all we used to be
I've seen you cry, I've seen you smile

I've watched you sleeping for a while
I'd be the father of your child
I'd spend a lifetime with you
I know your fears and you know mine
We've had our doubts but now we're fine
And I love you, I swear that's true
I cannot live without you

Goodbye my lover
Goodbye my friend
You have been the one
You have been the one for me

And I still hold your hand in mine
In mine when I'm asleep
And I will bare my soul in time
When I'm kneeling at your feet

I'm so hollow, baby, I'm so hollow
I'm so, I'm so, I'm so hollow
I'm so hollow, baby, I'm so hollow
I'm so, I'm so, I'm so hollow

DISKON 30 %

Diskon 30 % All Item!

Begitulah bunyi spanduk yang gw lihat ketika melewati jalan Matraman, khususnya saat melintas di depan Toko Buku Gramedia Matraman, pada akhir bulan Desember 2007.

Dalam hati gw berpikir, "
Wah, lumayan nih diskon 30 %. Mau belanja buku ah. Kan dah lama ga habiskan uang untuk belanja buku."

Namun sayangnya uang tunai gw tinggal sekitar 300 ribuan. Saat itu gw belum dapet kerja.

Beberapa hari kemudian, ketika gw maen ke rumah temen gw di daerah Sentiong, sambil anterin pesanan Tiramisu, salah satu teman kuliah gw sms: ajakin jalan2 ke TB Gramed Matraman.

Yah, mumpung gw lagi berada dekat dengan tempat itu, maka gw iyakan saja ajakannya. Lumaan lah ke Gramed sekaligus reunian sama temen kuliah.

Sampai di Gramed, wuih, ternyata udah PENUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUHHHHHHHH banget sama orang-orang yang mau pada belanja. Mungkin juga penuh sama orang yang cuma mau lihat "Toko Buku Terbesar se-Asia Tenggara".

Ho oh, katanya sih TB Gramed Matraman itu TB terbesar di Asia Tenggara. MASA SIH?
Gatau deh, yang pasti di penghujung Desember 2007 ketika gw lewat tuh TB, ada rombongan mobil yang ga biasa nongkrong di TB. Kata gosip kondektur bis P2 sih ada Presiden SBY yang meresmikan tuh TB. Dan ternyata emang bener. Keesokan harinya gw baca berita bahwa SBY emang resmikan TB itu, sekalian launching bukunya dia.
Cieee sekalian promosii nih, Pak!?

Ga heran deh, kenapa SBY sempet2in resmikan TB itu. Wong "toko buku terbesar se-Asia Tenggara".

AAAAAAH, whatever! yang pasti gw dateng ke situ untuk ketemu sama temen2 gw, belanja Harry Potter #1 s.d. #6.
Hehe, itu niat gw sebelumnya, beli Harry Potter buat koleksi.
Tapi, gw aga ragu juga, knapa mesti beli Harry Potter ya? Kenapa ga beli yang lebih bermanfaat?
Nah, dateng deh ide beli KBBI. Kan ceritanya gw bakal kerja di media massa sebagai Korektor Bahasa, pasti perlu dong yang namanya Kamus.

Tapi gw pikir2 lagi, "ngapain beli sesuatu yang belum tentu gw pakai nantinya. Toh, gw belum resmi diterima, dan kayanya aga meragukan juga."

Haaaaaaaaah, akhirnya gw ga jadi beli Harry Potter ataupun beli KBBI.
Yang gw beli cuma satu buku: For One More Day, karangan Mitch Albom, salah satu pengarang fav gw.

Bener2 di luar dugaan gw malah beli buku itu.

Beberapa jam berlalu, sampai tiba saatnya sholat magrib.
Biasa lah, gw dan temen2 pergi ke mushola belakang Gramed.

Eh, Busyet, ternyata PUENUUUUUUUUUUUUUUHHHHH banget sama yang mo sholat magrib. Maklum lah, musholanya kecil benget, paling cuma bisa nampung 2 atau 3 shaf. Dah gitu, di luar banyak yang antre.

Huh, malaes deh liatnya juga. Katanya "Toko Buku Terbesar se-Asia Tenggara" tapi ko musholanya kayanya "Mushola Terkecil se-Asia Tenggara" deh.

Oleh karena itu, gw dan temen2 berinisiatif sholat magrib di mesjid atau mushola di luar aja. Akhirnya berangkatlah kami.....

Duh, di mana ya mesjid di sekitar sini?

Kami cuma jalan, jalan, jalan. Nanya ke orang juga ga jelas, katanya lurus aja, belok sini , belok situ. Yah, ikuti kata hati deh. PAsti mesjidnya ga bakal jauh lagi.

Eh iya aja, sudah hampir masuk waktu Isya tuh, tapi, pastinya masih ada waktu Magrib, baru ketemu deh tuh mesjid.

Sholatlah kami.

Hm, setelah selesai sholat, saatnya cari makanan.

Gw waktu itu (dan sekarang ketika ngetik ini) pengen banget makan sate padang.

WAh, akhirnya ada juga tuh tukang sate padang nongkrong di pinggir jalan. Kenyang deh gw.

Huh, cape banget, gara-gara iming-iming Diskon 30 %, kaki ini pegal2 puter2puter Gramed cari buku bagus, antre bayar buku yang dibeli cuma satu, jalan-jalan cari mesjid, keliling cari tukang sate padang.

Gara-gara Diskon 30 %!

Kelak, mesjid itu akan menolong gw saat gw benar2 membutuhkannya.....



Jodohku Rp 450 ribu

Ini adalah kisah di balik serunya "CIUMAN PERTAMA" gw pada 14 Februari 2008.

Kisah "Ciuman Pertama" gw baca aja di blog COKELAT ASIN. Hehe...padahal di blog itu "ciumannya" cuma tersirat aja ko.

Begini,,,,,
Kucing gw, si Chibi udah beberapa hari dalam bulan Desember 2007 terlihat sedang bergairah. Di malam hari, dia ribut mengeong-ngeong minta kawin. Walhasil, kucing-kucing  jantan tetangga pada adteng buat "ngedate" sama Chibi.
Tentu saja kehadiran kucing-kucing jantan itu mengganggu stabilitas kehidupan gw dan orang-orang di rumah. Kami, sepakat bahwa "suami" Chibi haruslah dari "kalangan yang baik" pula. Kalau bisa sih lebih tinggi dari Chibi. Maklumlah, Chibi kan kucing semi Persia. Pengennya sih "suami" dan anak-anaknya Chibi berdarah Persia juga.

Aduh, ternyat walau sudah diusir-usir, disiram, dilempar pake sendal berhak tinggi, dan lain sebagainya, si kucing-kucing kampung kekeuh datang ke rumah. Di antara semua kucing kampung yang datang, ada tuh yang lumayan bersih dan cukup ganteng untuk ukuran kucing. Tapi, seganteng apa pun, tetep aja namanya kucing kampung. Katanya, kucing kampung itu gen-nya kuat banget. Kalo kucing kampung jantan kawin sama kucing Persia betina, katanya anak-anaknya bakal lebih dominan ke bapaknya.
Bagi si Chibi, ih amit-amit. Jangan sampe deh!

Nah, daripada kebablasan dan malah "diperkosa" kucing kampung, karena tampaknya hubungan mereka semakin akrab saja (bahkan si Bibi pembokat di rumah pernah memeregoki mereka sedang "...." WAAAAAHHHHHHHHh TIDAAAAAAAAAk, gw ga percaya omongannya si Bibi), gw ajak Chibi menemui dokter hewan aja. Di sana dia bakal dijodohkan dengan pejantan tangguh asal Persia juga.

Wah, ternyata "suaminya" Chibi itu ganteng banget. Tinggi besar, udah gitu bulunya PUTIH bersih, lebat, peke nose, di jidatnya ada spread warna hitam (bukan black spot loh, cuma spread sedikit). Pokonya dia mirip si Maru deh.

Tiap hari, gw telepon si dokter, menanyakan perkembangan keadaan mereka. Apakah Chibi sudah berhasil di"ehem-ehem" atau belum?
Pokonya gitu-gitu aja yang gw tanyakan ke dokternya.

Hehe, selain menghawatirkan keadaan si Chibi, gw tentu saja mengkhawatirkan keadaan domper gw yang ... maklumlah, belum kerja.

Bayangin aja, sehari "nitip" Chibi di rumah dokter tuh harganya Rp 100 ribu, dan minimal titipin selama 3 hari. Totalnya minimal gw harus sediakn uang Rp 300 ribu.

Cekak deh gw!

Nah, kalo kucing yang dititipin belum berhasil di"ehem-ehem" sama jantannya, maka mau-tidak mau harus ada perpanjangan waktu alias nambah waktu lagi buat nginep si Chibi.

Fuih, Nginepnya aja sampe 3 hari, dan ternyata tambahannya juga 3 hari. Untunglah, 3 hari selanjutnya itu hanya dihitung setengah harga, alis cuma Rp 50 ribu aja.

Tapi tetep aja jatuhnya mahal banget. Eh, totalnya adalah Rp 450 ribu.

Wah, Chibi emang kucing yang elite, royal banget, biaya buat kawin aja habiskan Rp 450 ribu.

Nah, dua bulan kemudian, alias tanggal 14 Februari 2008, saatnya penentuan.
Bagaimanakah "rupa" bayi-bayinya Chibi?
Apakah mirip si Chibi, Brown Tortie?
Ataukah mirip suaminya (pejantan dari dokter) Chibi, Putih?
ATAU malah mirip tetangga sebelah, warna ga jelas?



Ternyataaaaaaa......
Salah satunya ada yang berwarna "GARFIELD".
Hm, dari mana yah asalnya dia?

Apakah dari Rp 450 ribu itu?
Atau dari sebelah?

Au ah...........

Coklat ASIN

Udah pernah makan coklat yang rasanya asin?
pasti belum. Gw juga belum pernah.

Tapi kalo coba sesuatu yang "asin" di "hari coklat" sih gw juaranya.

Gini ceritanya.............
Kisahnya dimulai dari "hari coklat" yang orang lain sebut sebagai "valentine's day". Hari di mana orang2 pada sibuk bagi2 coklat ke orang yang dikasihinya. Gw sih ga pernah anggap hari itu ada. Trus ada juga yang bilang hari itu adalah "hari kasih sayang". Dan sebagai bentuk kasih sayang, diberikanlah coklat pada orang atau orang-orang (sebagai simbol sih). Nah, kalo hari itu hari kasih sayang, trus hari lain itu ga berkasih sayang dong? Ga bisa bagi2 coklat di hari lain dong?!

Maka dari itu, gw anggap aja hari itu sebagai "hari coklat". Daripada ngerayain "hari valentine" padahal kita gatau siapa valentine itu, mendingan kita anggap hari itu sebagai "hari coklat". Semua orang udah pada tau kan sama COKLAT. Nah, kayanya kalo menjadikan hari itu sebagai Hari Coklat ga ada salahnya deh. Coklat kan cuma makanan. Coklat kan ga bakal marah atau protes kalau dia dibikinin hari spesial. Mungkin kalo dia tuh bisa ngomong, dia bakal seneng banget. "ASA DIULANGTAUNKEUN!"

14 Februari 2008, di saat gw "harus" makan coklat, gw malah masukin sesuatu yang "asin" ke mulut gw. Mending kalo asinnya asin rasa dari makanan yang gurih. Ih, ini mah sesuatu yang ..... ueeeks, jijay.

Bukan air laut.
Bukan air mata.
Bukan ingus.
Bukan congek.
(emang ada yang udah pernah coba dan tau rasa congek atau kotoran kuping? gimana rasanya?)

Something salty itu adalah....JRENG JRENG JRENG.....

AIR KETUBAN

kebaca ga?

AIR KETUBAN

hah, ga kebaca juga?

AIR KETUBAN. Ya, AIR KETUBAN KUCING.
Hiiiiiiiiiiii, joroooook!

Gini ceritanya:
13 Februari 2008, hari Rabu tuh, gw masuk kerja seperti biasa. Biasanya gw pulang jam 12an malem. Ya hari itu gw juga pulang seperti biasa. Jam 12 malem.
Nyampe rumah ga langsung tidur dong, makan dulu, mandi dulu (hehe, kalo udah kemaleman sih jarang mandi jam segitu), sholat tahajjud dulu (cieee sok rajin). Nah, pas mau tidur kan udah lewat jam 12 dong. Udah tanggal 14 Februari dong.

"Harus"nya gw awali hari itu dengan makan coklat, tapi mana keingetan makan coklat udah malem buta gitu. Yang ada, gw gemeteran liat Si Chibi, kucing gw, diem terus di bawah (kolong) spring bed gw. diajak keluar ga mau. Dipaksa juga susah. Ya udah, gw bongkar aja tuh spring bed. Akhirnya Si Chibi keluar juga.

Ternyata, bulu2 sekitar pantatnya basah, oh, ketubannya udah pecah.

Yes, dia lagi hamil, dan usia kehamilannya udah dua bulan. Menurut kalkulator kucing sih, dia harusnya lahiran akhir pekan ini. Ternyata salah perhitungan. Kesalahan perhitungan ini akan dibahas di blog lainnya,
Jodohku Rp 450 ribu.

Back to Chibi.
Setelah dia keluar dari kolong spring bed gw, dia langsung gw giring ke dus yang sengaja gw sediakan khusus untuk tempat lahirannya dia. Lengkap dengan berlembar2 kertas koran.
Waduh, di pantatnya ada gumpalan darah dan segelembung ketuban yang membungkus bayi kucing. Wah, untung gw belum terlambat. Langsung deh Si Chibi gw suruh rileks, tarik napas, ngeden, tarik napas lagi, ngeden lagi. Wah, persis kaya adegan di serial Desperate Housewifes season 3, pas si Chiao Mei mau lahirkan bayi tabungnya pasangan Gabriel & Carlos Solis aja. (udah pada nonton blm episode itu?)

Pas dia ngeden, gw ikut ngeden juga. Ngggggggggeh, hah, hah, hah, ngeden lagi...Ngggggggeh, hah, hah, hah, ngeden lagi...Nggggggggeh, hah, hah, hah. Cape ah. Gitu kata Si Chibi, eh, kata gw juga.

Gitu gitu terus selama satu jam. Aduh, dah jam berapa tuh. Ada kali jam 2. Si Gilang (di belakang gw) ga bantuin liatin jam sih. Dia malah asyik sms-an sama pacarnya di kamar gw. Tapi dia bantuin gw siapin air panas, ambilin tissue, sterilkan alat2 bedah, pokonya lumayan bantuin lah. Tapi dia juga mulai kecapean karena bayinya ga keluar2.

Eh eh, dia ngeden lagi tuh. Kali ini sukses ngedennya. Ngggggggggggggggggggggggeh........HAH HAH HAH, yeahhhhh keluar juga.
Aduh bingung nih. Gimanain nih bayi? O iya, gw kan udah baca2 tentang tata cara prosesi bidanin kucing persia di milis Kucingkita.com.

Gunting tali ari-arinya, iket pake benang yang udah steril, olesi dengan betadine, bersihkan badannya pake lap. Pokonya tahapan kaya bidanin bayi orang deh.

TAPIIIIII

ada bagian paling "SPECIAL" dan bagian ini harus pake "SPECIAL EFEK" pula. Berhubung gw belum sempet beli penyedot lendir, maka.... gw gunakan mulut gw yang masih "VIRGIN" ini untuk menghisap lendir yang menutupi hidung dan mulut bayi kucing yang baru keluar.

SROTTT, SROTTT, SROTTT,
Puih, cuah, spbrlmpsblpslm, cuih.
AAAASSSIIIIINNNNN!!!!
Kirain rasanya bakal kaya apa. Ternyata
AAAASSSIIIIINNNNN.

Hehe, lega rasanya liat si bayi no.1 udah bisa napas dengan semestinya. Tapi, gw liat di belakang gw, si Gilang malah ngumpet, menyembunyikan kejijian yang telah gw lakukan. Gw yang lakukan, ko dia yang mo muntah.

Hehe, pas bayi ke tiga keluar, dan gw harus sedot lendir ketuban untuk kali ketiga, gw jadi enegk, dan sempet...ueghks.... Hampir muntah. Tapi gw kuat2in.
Total sedot-menyedot, EMPAT KALI.

14 Februari 2008 itu gw bukannya makan coklat empat batang, gw malah sedot ketuban empat kali.

Jadinya, Empat Coklat Asin!!!

Mau coba?
 



The Storm

               

The Storm
Every storm brings with it hope
That somehow by morning,
Everything will be made clean again.
And even the most troubling stains
Will have dissapeared.

Like the doubts over the innocence
Or the consequence of the mistake
Like the scars of the betrayal
Or the memory of the kiss

So, we wait for the storm to pass
Hoping for the best
Even though we know in our hearts
Some stains are so indelible.
Nothing can wash them away.

The Perfect Couple

                 The Perfect Couple

Have you met the perfect couple?
The two soul mates who loves never dies?
The two lovers who relationship is never threat end?
The husband and wife who trust each other completely?


If you haven't met The Perfect Couple,
Let me introduce you!

They stand a top a layer of buttercream frosting.

The secret of their success?
well, for starters,
They don't have to look at each other.




The dream becomes real

We dream of hope, we dream of change, of fire, of love, of death.
And then it happens.
The dream becomes real. And the answer to this quest.
This need to solve life's mysteries finally shows it self.
Like the glowing light of a new dawn.

So much struggle for meaning, for purpose.
And in the end, we find it only in each other.
Our shared experience of the fantastic.
And the mundane. The simple human need to find a kindred to connect.
And to know in our hearts, that we are not alone.


                                                                           In Loving Memory,
                                                                      Mas Adi Sasmito (almarhum)

Dedicated to All My Friends

In this world, it's hard to tell who's true and who's not.
People may be good at the beginning and be cruel in the end.
If you are too trusting, they'll take advantage of you.
If they know you're weak, they'll hurt you.

FRIENDS? What really is the meaning of this seven letter word?  What is the deeper meaning of it? A friend is a person that one likes, a person who helps out or supports something or someone who is on the same side.
Someone who is trusted!

Who is a real friend? Can they easily be found?
Tell me, how to find a real friend?
Of all my friends, who is the one that is always at my side when I'm down?
Who is the one who cares for me a lot?
Who is the one that does not take advantage of me?
ARE THEY REALLY MY TRUE FRIENDS?! I DON'T KNOW!
I am sad, a feeling of sadness, Yes! I know i have to accept others for what they are and who they are.
But please, accept me for who I am. Erik is Erik, and you can't change him!
If you are a true friend, you can understand attitudes of others.
I know that God made us all with different personalities! Why not just accept others? ACCEPT

We must! I am not perfect, no one is made perfect. No one is made perfect. No one! I need a friend who is not a friend only by words but by love and feelings.
Friendship is not just beautiful photos. It could fade.
It's not too late to learn that!

                                                                                                                    Thank you, Wong!